Pemerintah Kabupaten Malinau berencana menggelar Irau ke-12 pada 20–26 Oktober 2026, bertepatan dengan rangkaian peringatan hari jadi ke-27 kabupaten tersebut. Festival budaya ini menjadi ruang pertemuan berbagai etnis dan paguyuban di Malinau untuk memperkenalkan adat, kesenian, serta tradisi mereka kepada masyarakat dan pengunjung.
Irau Malinau dikenal sebagai pesta rakyat yang menghadirkan pertunjukan tari, musik tradisional, prosesi adat, dan perlombaan. Selain merayakan keberagaman, penyelenggaraannya ditujukan untuk menjaga warisan budaya agar tetap dikenal generasi muda. Festival ini juga menjadi kesempatan memperkenalkan potensi wisata dan ekonomi kreatif daerah, meski dampak ekonominya tidak dirinci dalam sumber.
Dalam penyelenggaraan sebelumnya, pengunjung dapat menyaksikan tarian dengan pakaian adat, pertunjukan penyambutan tamu, serta lomba tari yang melibatkan peserta dari berbagai komunitas Dayak. Kegiatan lain yang pernah disebut sebagai bagian dari kemeriahan Irau meliputi menyumpit, kicau burung, dan panjat pinang. Sumber tidak merinci kegiatan mana saja yang telah dipastikan masuk agenda 2026.
Meliwah, ritual untuk mengingat perdamaian
Salah satu tradisi yang pernah ditampilkan dalam Irau ialah Meliwah oleh Lembaga Adat Dayak Kenyah. Ritual ini berkaitan dengan pembersihan diri, perdamaian, dan persatuan. Pesertanya mengenakan pakaian adat Dayak dengan aksesori yang antara lain menampilkan bulu burung enggang. Prosesi dipimpin tetua adat dan disertai tarian yang menggambarkan kebersamaan.
Menurut penjelasan Presiden Majelis Adat Dayak Nasional Marthin Billa yang dimuat dalam sumber, Meliwah pada masa lampau digunakan untuk mengakhiri perselisihan hingga peperangan. Dalam konteks Malinau yang dihuni beragam etnis, makna itu menjadi pengingat pentingnya menyelesaikan persoalan melalui komunikasi dan menjaga hubungan antarmasyarakat.
Menyumpit dari alat berburu menjadi olahraga tradisional
Tradisi lain yang lekat dengan perayaan Irau adalah menyumpit, atau manyipet. Sumpit merupakan alat yang digunakan dengan cara ditiup untuk melontarkan proyektil ke sasaran. Sumber menyebut alat ini dahulu dipakai masyarakat Dayak untuk berburu maupun berperang, sedangkan kini lebih banyak hadir sebagai perlengkapan perlombaan tradisional.
Perubahan fungsi tersebut membuat manyipet tetap dikenal melalui pertandingan yang diselenggarakan pada kegiatan daerah. Di Irau Malinau, lomba menyumpit menjadi salah satu cara pengunjung melihat keterampilan tradisional yang masih dipelihara masyarakat setempat.
Pameran benda budaya dan sejarah
Irau juga pernah menghadirkan pameran yang memperlihatkan benda-benda terkait sejarah masyarakat Dayak. Pada penyelenggaraan sebelumnya, peralatan peninggalan prajurit Dayak Kayan ditampilkan bersama anyaman rotan, manik-manik, taring hewan, dan senjata tradisional. Foto situs purbakala dari wilayah Data Dian dan Long Alabgo turut dipamerkan.
Di antara koleksinya terdapat mandau, tameng, dan bujak, yakni tombak khas Kayan. Sumber menggambarkan salah satu mandau memiliki gagang dan sarung berbahan tulang, dengan hiasan ukiran tengkorak serta anyaman rotan. Pameran semacam ini memberi pengunjung kesempatan mengenal benda budaya beserta kisah masyarakat yang mewariskannya.
Melalui pertunjukan, perlombaan, dan pameran, Irau Malinau mempertemukan berbagai bentuk warisan budaya dalam satu perayaan. Namun, rincian kegiatan untuk penyelenggaraan 20–26 Oktober 2026 masih perlu merujuk pada agenda resmi penyelenggara.